Malam. Tikanya bulan dan bintang secara paksarela menjadi saksi janji, sumpah, tangis dan tawa sang pemuja cinta. Saat ini asmaraloka mencerahkan hari sang pemburu cinta. Nafsu dan akal menjadi pilihan mereka.
Hidupnya sang malam dikota. Metropolitan itu tidak kenal erti tidur. Seruan demi seruan diterima si pemilik tubuh untuk mengisi kocek yang senantiasa lapar dan dahaga. Lain di desa. Inilah saat tenang bagi pencinta kedamaian. Serangga dan unggas mengambil tugas memecah kesunyian malam dengan keriuhan yang menenangkan.
Sisi gelap sang malam tetap ada. Yang belang hidungnya menerkam ayam. Yang panjang tangannya mengaut mencari 'rezeki'. Tak kurang juga yang memperjudikan diri atas nama kelajuan diatas tar.
Sinonimnya dengan tidur amat sukar terpisah. Waktu asal manusia memanjakan diri diatas pembaringan. Keras atau empuk itu soalan kedua. Yang penting lenanya. Mimpi mengambil alih duka alam nyata untuk dirawat sebelum jasad ini dikembalikan roh untuk menghadap hari esok.
Yang berpegang kepada dua kalimah, ini saat lena dan jaga. Lenanya ibadah jaganya juga untuk ibadah. Lengkap sudah lima waktu ini, ini masa untuk mendampingi yang satu. Mengorbankan nikmat sebentar dunia fana untuk membina lebuhraya ke syurga. titis tangis taubat membasahi, tikar berpaksi kiblat mengalasi. Berkomunikasilah sang hamba dengan maha pencipta.
Malam. Pasti terjadi. Itu janji alam. Belum pernah dimungkiri.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan